Tuesday, 18 October 2022

MODUL 3.1.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI_PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN


                                        




DATA PRIBADI 


RANTO PANJAITAN, S.Pd 
SMK NEGERI 1 BINJAI
CGP ANGKATAN 5 KOTA BINJAI 

FASILITATOR : IBU DRA MERY SYAFRIATI 
PENGAJAR PRAKTEK : IBU AGUSTUNA, S.PD    

    Rabu, 19 Oktober 2022
                                                            MODUL 3.1.A.8 
                                            KONEKSI ANTAR MATERI 
           PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN 

 PERTANYAAN PEMANTIK 

        “Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).Bob Talbert

1. Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini?

      Kaitan kutipan diatas dengan proses pembelajaran yang sedang saya pelajari adalah bahwa dalam pengambilan keputusan kita harus menganalisis studi kasus atau masalah yang kita hadapi apakah masalah itu mengandung undur dilema etika atau bujukan moral. Masalah yang mengandung unsur dilema etika adalah masalah yang mempunyai kebenaran yang sama sehingga kita harus bijak dalam mengambil keputusan tetapi apapun itu masalah dilema etikanya kita harus mengambil keputusan yang berpihak kepada murid dan sesuai dengan nilai-nilai kebajikan. Dalam pengambilan keputusan masalah dilema etika dan bujukan moral kita harus menggunakan 4 paradigma dilema etika,3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkap pengambilan keputusan sehingga keputusan yang akan kita ambil bisa dipertanggung jawabkan dan berpihak kepada murid.

2. Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita?

Nilai –nilai dalam suatu pengambilan keputusan yang saya pegang adalah Nilai –nilai yang sesuai dengan nilai kebajikan yaitu bertanggung jawab,bijak dan integritas. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab dan bijak serta mempunyai rasa integritas akan berdampak positif di setiap lingkungan kita baik itu lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat karena keputusan yang kita  ambil adalah keputusan  berpihak kepada murid yang membuat rasa nyaman , rasa percaya dan saling berkolaboratif dari setiap kasus yang ada di lingkungan kita khususnya lingkungan sekolah .

3. Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda?

Sebagai seorang pendidik sekaligus sebagai pembimbing pembelajaran saya harus menjadi teladan bagi siswa dan dalam proses pembelajaran saya harus melaksanakan pembelajaran yang berpihak kepada siswa dimana saya sebagai pendidik harus memegang teguh filosopi KHD dengan tujuan pendidikan yaitu Menuntun anak dengan kodratnya sehingga anak akan memperoleh kebahagian dan keselamatan yang setinggi tingginya sehingga dalam hal ini saya harus mengarahkan dan menggali potensi siswa supaya kodratnya tetap terjaga oleh karena itu sebagai pembimbing pembelajaran maka dalam itu pengambilan keputusan yang saya lakukan keputusan  harus berpihak kepada siswa sehingga keputusan menggandung nilai-nilai kebajikan dan rasa bertanggung jawab.

Kutipan : 

Education is the art of making man ethical.
Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.
~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Saya alami di modul ini adalah bagaimana cara mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran dalam menghadapi kasus atau masalah sehingga dalam hal ini dengan pengetahuan yang sudah saya peroleh maka saya akan menganalisis kasus tersebut apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral karena biasanya masalah dilema etika adalah masalah benar lawan benar sehingga dalam pengambilan keputusan kita harus sesuaikan dengan nilai-nilai kebajikan ,rasa bertanggung serta keputusan yang berpihak siswa, oleh karena itu pada modul ini saya sebagai pemimpin pembelajaran akan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah dalam pengambilan keputusan sehingga keputusan yang akan saya ambil adalah berpihak kepada siswa .



Membuat Rangkuman dari proses perjalanan pembelajaran Anda sampai saat ini pada program guru penggerak 

Panduan Pertanyaan untuk membuat Rangkuman Kesimpulan  Pembelajaran (Koneksi antar materi). Dalam hal ini ada sebanyak 14 pertanyaan yang memandu dalam pembuatan Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran

1. Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosopi Ki Hadjar Dewantara dengan Pratap Triloka yang sering dikenal dengan tiga semboyan kepimpinan dalam pendidikan yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha( didepan memberikan teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah memberi semangat) dan Tut Wuri Handayani (dibelakang memberikan daya kekuatan). Dengan adanya Pratap Triloka akan menjadi pegangan seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan dimana sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik harus menjadi Ing Ngarso Sung Tuladha yang artinya seorang pendidik harus memberikan teladan dan contoh yang positif dalam menyelesaikan masalah dimana seorang pendidik harus bijak dalam mengidentikasi masalah yang ada sehingga siswa dapat mengikuti cara keteladan pendidk dalam pengambilan keputusan dari suatu masalah, sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik harus Ing Madya Mangun Karsa, dimana pendidik harus memberikan semangat kepada siswa dalam mengambil keputusan dari suatu masalah yang ada, dan sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik menjalankan Tut Wuri Handayani artinya bahwa pendidik selalu dapat memberikan dorongan atau dukungan kepada kinerja siswa agar dapat berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya. Disamping itu sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik dalam menyelesaikan masalah baik itu dilema etika maupun bujukan moral maka pendidik harus menggunakan 4 paradigma dilema etika , 3 prinsip dalam pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

2.Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap pendidik pasti memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam pada dirinya, sehiingga nilai nilai itu menjadikan pendidik adalah teladan bagi siswa.
Seorang pendidik harus mempunyai nilai-nilai yang terkandung dalam guru penggerak yaitu mandiri, inovatif,kolaboratif,reflektif dan berpihak kepada murid sehingga dengan adanya nilai nilai ini seorang pendidik akan mampu mengambil keputusan yang berpihak kepada murid, sesuai dengan nilai-nilai kebajikan dan rasa bertanggung jawab. Nilai-nilai kebajikan yang mendasar pada diri kita diantaranya cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggungjawab dan penghargaan dalam hidup. Nilai-nilai itulah yang mendasari pengambilan suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika sehingga berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan. Ketiga prinsip yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus kita hadapi sebagai pemimpin pembelajaran yaitu


1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thingking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thingking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based thingking)

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan "coaching" yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada sebelumnya.?

Sebagai pemimpin pembelajaran sebagai seorang guru coaching sangat penting karena dengan coaching permasalahan yang kita hadapi baik dengan murid maupun dengan rekan sejawat yang membantu kita dalam menagrahkan penyelesaian masalah yang kita hadapi.
Dalam dunia pendidikan Coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan Coach dapat membuat murid melakukan metakognisi untuk mengambil keputusan dengan memilih sendiri alternatif/solusi dari permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Proses coaching dilakukan sebagai pendampingan bagi coachee dalam menemukan solusi dan menggali potensi yang ada dalam diri, yang kemudian dituangkan dalam sebuah tindakan sebagai bentuk tanggung jawab (TIRTA).
Menilik kembali filosofi Ki Hajar Dewantara tentang peran utama guru (Pamong/Pedagog), maka memahami pendekatan Coaching menjadi selaras dengan Sistem Among sebagai salah satu pendekatan yang memiliki kekuatan untuk menuntun kekuatan kodrat anak (murid). Pendekatan coaching sistem among dapat diterapkan dengan menggunakan metode TIRTA yang merupakan kepanjangan dari T: Tujuan, I: Identifikasi, R: Rencana aksi, dan TA: Tanggung jawab. Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. kita, sebagai guru memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan. Tugas guru adalah menuntun atau membantu murid (coachee) menyadari bahwa mereka mampu menyingkirkan sumbatan-sumbatan yang mungkin menghambat perkembangan potensi dalam dirinya. Hal ini selaras dengan Tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka.
Pendekatan coaching model TIRTA menjadi selaras jika disandingkan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada anak. Keterampilan coaching akan membantu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.
Dalam proses coaching, seorang coach menuntun agar coachee dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru atas situasi yang sedang dihadapi. Proses coaching menekankan pada proses inkuiri yaitu kekuatan pertanyaan atau proses bertanya yg muncul dalam dialog saat coaching. Pertanyaan efektif mengaktifkan kemampuan berpikir reflektif para murid dan keterampilan bertanya mereka dalam pencarian makna dan jawaban atas situasi atau fenomena yang mereka hadapi dan jalani.
Apakah keputusan saya sudah berdasarkan rasa tanggungjawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid dengan mengikuti 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

  1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
  2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
  4. Pengujian benar dan salah
  1. Uji Legal yaitu menentukan apakah ada aspek pelanggaran hukum, jika jawabanya ya maka bukanlah antara benar lawan benar (dilema etika) namun antara benar dan salah (bujukan moral)
  2. Uji Regulasi/ standar professional yaitu menentukan apakah ada pelangaran peraturan/ kode etik profesi dalam kasus tersebut
  3. Uji Intuisi yaitu menentukan apakah ada yang salah dalam situasi tersebut berdasarkan perasaan dan intuisi
  4. Uji Publikasi yaitu menguji perasan bila keputusan yang diambil dipublikasikan di halaman depan koran
  5. Uji Panutan/ idola yaitu menentukan keputusan apa yang akan diambil oleh panutan/ idola dalam situsi tersebutPengujian paradigma benar lawan benar
  6. Melakukan prinsip resolusi
  7. Investigasi opsi trilema
  8. Buat keputusan
  9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan.
Sembilan langkah pengambilan tersebut sangat membantu keterampilan coaching karena keterampilan ini membekali seorang guru untuk menjadi coach bagi dirinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil dan melihat berbagai opsi solusi sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat dan efektif.


4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Sebagai pemimpin pembelajaran seorang guru harus mempunyai kemampuan dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional pada dirinya sehingga di dalam pengambilan keputusaan perlu dilakukan dengan kompetensi sosial emosional oleh karena seorang pendidik memrlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial (CASEL).
Diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindful), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa di dalam kondisi berkesadaran penuh, terjadi perubahan fisiologis seperti meluasnya area otak yang terutama berfungsi untuk belajar dan mengingat, berkurangnya stres, dan munculnya perasaan tenang dan stabil . Dengan latihan berkesadaran penuh, maka seseorang dapat menumbuhkan perasaan yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih, yang akan berpengaruh pada keputusan yang lebih responsif dan reflektif.Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di sekolah.


5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Langkah awal yang saya gunakan seorang pemimpin pembelajaran dalam menyelesaikan studi kasus adalah saya sebagai pendidik terlebih dahulu mengidentifikasi masalah yang saya hadapi dengan baik apakah masalah tersebut termasuk unsur dilema etika atau bujukan moral karena dua unsur ini sangat tipis perbedaannya oleh karena itu saya memerlukan nilai-nilai yang saya anut sebelumnya sehingga masalah itu dapat saya bedahkan dan saya dapat mengambil keputusannya.. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid. Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
 
Sebagai pemimpin pembelajaran sebagai seorang guru akan menghadapi berbagai masalah dan dalam pengambilan keputusan dari masalah itu pasti akan mengalami perbedaan keputusan antara saya dan rekann sejawat dan dari perbedaan keputusan itu merupakan suatu tantangan yang harus diselesaikan dengan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang sterjadi di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.Dalam kasus dilema etika kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama sama benar namun harus diputuskan salah satu harus dilakukan , dalam kasus dilema etika sebagai guru terlebih dahulu kita menentukan jenis paradigmanya yaitu individu lawan kelompok,kebenaran lawan kesetian,keadilan lawan kasih sayang dan jangka pendek lawan jangka panjang setelah timbullah tantangan tantangan yang dalam mengambil keputusan dari kejadian tersebut akibat benar lawan benar sehingga tantangannya sangat berat dalam mengambil keputusan. Setiap perubahan paradigma yang dilakukan baik di lingkungan sekolah maupun di luar akan ada kaitannya dengan muncul tantangan karena perubahan membawa dampak baik positif maupun negatif sehingga adanya perubahan akan muncul tantangan.
 
8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik. Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan transformasional, pasti ada kritik. Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid?" (Nadiem Makarim, 2020)
Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Sebagai seorang guru dalam pemimpin pembelajaran pengambilan keputusan harus didasarkan pada rasa tanggungjawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid. Dengan keputusan yang berpihak pada murid berarti keputusan yang kita ambil sudah mempertimbangkan kebutuhan belajar murid dan menuntun murid untuk mengembangkan potensinya sehingga dengan memperhatikan semua itu dapat berpengaruh pada keberhasilan dari murid di masa depan nanti.
Seorang pemimpin pembelajaran yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.
Keputusan-keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah, terutama bagi murid. Pendidik adalah teladan bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang dapat diambil bahwa guru merupakan pemimpin pembelajaran maka diharapkan mampu memiliki sikap among berdasarkan Pratap Triloka yang dapat membantu murid dalam tumbuh kembangnya dan menjadi teladan bagi lingkungannya. Sangat penting pula bagi guru untuk memiliki pengetahuan bagaimana cara mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri, pengelolaan diri, keterampilan membangun relasi dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dan efektif guru juga harus memiliki kemampuan sebagai coach dan memperhatikan 3 prinsip pengambilan keputusan serta 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim dan tentunya memberikan dampak positif bagi murid di sekolah.
   
Kaitan-kaitannya dengan modul sebelumnya, yaitu: 
  1. Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.
  2. Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).
  3. Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.
  4. Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar
11.Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Setelah saya mempelajari modul 3.1 akhirnya saya mampu membedahkan antara masalah dilema etika atau bujukan moral . Dilema etika (benar vs benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah.

Empat Paradigma dilema etika, yaitu :
1. Paradigma individu melawan masyarakat (individu vs community); yaitu konflik yang terajdi untuk membuat pilihan antara kepentingan pribadi atau kelompok kecil dengan kepentingan orang lain atau kelompok yang lebih besar.
2. Paradigma keadilan melawan rasa kasihan (Justice vs mercy); pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan pelakukan yang sama bagi semua orang atau membuat pengecualian kar3ena kemurahan hati dan kasih sayang. Terkadang diperlukan untuk memegang teguh peraturan, akan tetapi, kita pun terkadang perlu membuat pengecualian untuk hal yang benar dan manusiawi.
3. Paradigma kebenaran mealawan kesetiaan (truth vs loyalty). Pada paradigma ini kita ditempatkan pada situasi untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia sebagai rasa tanggung jawab kita kepada orang lain. Apakah kita akan berlaku jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
4. Paradigma jangka pendek melawan jangka panjang (short term vs long term) pada paradigma ini kita ditempatkan pada pilihan antara yang nampak terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.

Dilema etika seringkali membuat kita sulit untuk mengambil keputusan. Keputusan yang kita ambil sering kali hanya berdasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini:
  1. Berpikir Berbasis pada Hasil Akhir (Ends Based Thinking).
  2. Berbasis Peraturan (Rules Based Thinking).
  3. Berbasis Rasa Peduli (Cares Based Thinking).
Sebelum mengambil keputusan, terdapat 9 (sembilan) langkah yang dapat disusun untuk memandu kita dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan, diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Uji Legal yaitu menentukan apakah ada aspek pelanggaran hukum, jika jawabanya ya maka bukanlah antara benar lawan benar (dilema etika) namun antara benar dan salah (bujukan moral)
  2. Uji Regulasi/ standar professional yaitu menentukan apakah ada pelangaran peraturan/ kode etik profesi dalam kasus tersebut
  3. Uji Intuisi yaitu menentukan apakah ada yang salah dalam situasi tersebut berdasarkan perasaan dan intuisi
  4. Uji Publikasi yaitu menguji perasan bila keputusan yang diambil dipublikasikan di halaman depan koran
  5. Uji Panutan/ idola yaitu menentukan keputusan apa yang akan diambil oleh panutan/ idola dalam situsi tersebutPengujian paradigma benar lawan benar
  6. Melakukan prinsip resolusi
  7. Investigasi opsi trilema
  8. Buat keputusan
  9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan.
12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Pernah, Saat itu saya dihadapkan dengan situasi dilema etika yaitu masalah siswa saya yang akan ditinggalkan kelas oleh beberapa guru mata pelajaran memang siswa saya ini mempunyai masalah dan tingkah laku yang buruk tetapi karena saya mengingat ekonomi orangtua yang lemah jadi saya berusaha untuk menaikan siswa saya tersebut supaya siswa itu tidak putus sekolah sebelumnya saya sebagai wali kelas menemui beberapa guru mata pelajaran untuk bermohon supaya siswa tersebut naik kelas sehingga kasus ini adalah dilema etika yang pertama kali saya hadapi sebagai guru dan saya mengambil keputusan tetap menaikan siswa saya tetapi keputusan yang ambil itu masih mengalami keraguan . Tetapi setelah mempelajari modul ini ternyata apa yang saya lakukan sebelumnya sangat berbeda dengan setelah belajar modul ini yaitu pengambilan keputusan untuk dilema etika harus menggunakan 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak mempelajari modul ini saya menjadi lebih bijak dalam memututuskan masalah yang saya temui dan saya juga merasakan lebih bercaya diri dalam mengambil keputusan terutama sebaagi pemimpin pembelajaran. saya lebih percaya diri karena bisa memastikan keputusan yang saya ambil tepat atau efektif dan bertanggung jawab dan keputusan yang saya ambil disesuaikan dengan nilai-nilai kebajikan dan berpihak kepada siswa dan setiap keputusan itu melalui proses pengujian keputusan yang terdiri dari 9 langkah. saya juga merasakan mendapat pengetahuan yang berharga terutama sebagai individu dalam memandang permasalahan yang saya hadapi.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sebagai seorang individu topik pada modul ini sangat penting dan bermanfaat bagi saya karena dengan mempelajari modul ini saya berharap saya menjadi terampil dalam pengambilan keputusan pada setiap permasalahan yang hadapi.
Sedangkan sebagai seorang pemimpin topik pada modul ini sangat penting dan berguna juga karena sebagai pemimpin pembelajaran akan selalu dihadapkan pada situasi dimana harus mengambil keputusan yang mengandung nilai nilai kebajikan yang saling bertentang dan juga sebagai pemimpin pembelajaran saya menjadi tahu membedahakan kasus dilema etika atau bujukan moral sehingga dengan demikian saya bisa mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab dan berpihak kepaad siswa.


Demikianlah saya telah menyelesaikan tugas modul 3.1.A.8 yaitu Koneksi Antar Materi 
saya harapkan kepada teman-teman yang membaca tolong diberikan masukannya untuk menjadi perbaikan kedepannya.

Sunday, 28 August 2022

MODUL 1.4 AKSI NYATA_BUDAYA POSITIF

  DATA PRIBADI 

RANTO PANJAITAN, S.Pd 
SMK NEGERI 1 BINJAI
CGP ANGKATAN 5 KOTA BINJAI 
     
                                    
        MODUL 1.4 AKSI NYATA _BUDAYA POSITIF 
JUDUL : 
 MENANAMKAN DAN MEMBIASAKAN BUDAYA POSITIF DENGAN KESEPAKATAN KELAS DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI SMK NEGERI 1 BINJAI 

A. PENDAHULUAN 

Latar Belakang 

Pendidikan merupakan pembelajaran pengetahuan,keterampilan dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan melalui pengajaran yang diberikan guru kepada siswa . Sekolah adalah tempat menggali ilmu pengetahuan untuk siswa yang diterima dari pendidik sehingga dengan demikian sekolah harus menjadikan tempat lingkungan yang nyaman dan aman supaya siswa menjadi termotivasi untuk belajar di kelas oleh karena itu sekolah harus membuat lingkungan menjadi budaya positif. Di zaman sekarang ini, kemajuan tekonologi sangat pesat yang mempunyai pengaruh positif dan negatif oleh karena itu kita harus menfilternya, sehingga fenomena krisis karakter sangat mengkuatirkan  hal tersebut banyak anak anak mengikuti trend budaya luar tanpa mengkaji apakah itu sesuai dengan budaya kita. Filosofi pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menuntun kodrat anak yang mereka miliki sehingga anak menperoleh keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya maka dengan itu pendidik harus selalu mendampingi dan membimbing anak sehingga tidak kehilangan arahny. Sekolah harus selalu berusaha menciptakan iklim pendidikan yang mampu membiasakan setiap warganya khususnya siswa melakasanakan budaya yang positif. Penerapan budaya positif sudah sepatutunya diterapkan oleh seluruh warga sekolah dengan penerapan budaya positif ini guru harus menjadi role model dengan posisi manager yang lebih menuntun tumbuhnya kesadaran dalam diri siswa yang sesuai dengan nilai-nilai yang disepakati kelas. 

Budaya Positif dapat menciptakan lingkungan menjadi disiplin positif, nyaman dan aman dalam proses pembelajaran sehingga siswa didalam kelas menjadi terbiasa dalam menanamkan budaya positif , oleh karena itu saya sebagai guru penggerak ingin melakukan aksi nyata di sekolah saya dengan dengan judul aksi nyata saya adalah "Menanamkan dan Membiasakan budaya positif dengan kesepakatan kelas dalam proses pembelajaran di SMK NEGERI 1 BINJAI"


B. RANCANGAN TINDAKAN AKSI NYATA 

1. Tujuan 

Adapun yang menjadi tujuan dalam tindakan aksi nyata ini adalah : 

  • Menumbuhkan budaya positif di sekolah dan di kelas dalam proses pembelajaran melalui kesepakatan kelas 
  • Menumbuhkan nilai-nilai profil pelajar pancasila pada diri siswa dalam kegiatan pembelajaran 
  • Membiasakan siswa menemukan kebebasan,kebahagian dan kenyamanan dalam belajar sesuai kesepakatan kelas 
  • Melatih kolaborasi dan komunikasi terutama ketika saling mnegur dan mengingatkan 

2. Tolak Ukur

Adapun yang menjadi tolak ukur dalam tindakan aksi nyata ini adalah : 

  • Siswa dapat membuat kesepakatan kelas yang dipasang di dinding kelas 
  • Siswa mampu menjakankan kesepakatan kelas yang sudah dibuat bersama 
  • Siswa merasakan kenyamaan, aman dan disiplin positif di lingkungan sekolah terutama di dalam kelas saat proses pembelajaran 
  • Siswa mampu berkolaborasi dan berkomunikasi dengan baik di lingkungan sekolah 

3. Linimasa tindakan aksi nyata 

Adapun kegiata-kegiatan yang dilakukan dalam aksi nyata ini adalah sebagai berikut : 

  • Guru membuat rancangan tindakan aksi nyata 
Dalam hal ini guru membuat kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dalam aksi nyata di kelas maupun di luar kelas dalam proses pembelajaran matematika .

Membuat Rancangan aksi nyata 

  • Sosialisasi kepada seluruh warga sekolah, guru dan siswa tentang pentingnya penanaman budaya positif melalui kesepakatan kelas dan meminta izin kepada kepala sekolah serta bantua rekan guru .
                        Adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut: 
  1. Guru penggerak memberikan penjelasan kepada rekan guru pentingnya menanamkan budaya positif dengan melalui kesepakatan kelas yang dapat membuat suasana kelas menjadi nyaman dan aman serta membuat siswa lebih disiplin posistif  karena kesepakatan kelas tersebut dibuat dan disepakati oleh siswa itu sendiri 
  2. Guru Meminta ijin kepada kepala sekolah untuk memberikan masukan dari rancangan aksi nyata yang sudah di buat sekaligus ijin melaksanakan aksi nyata di sekolah 
  3. Guru berkolaborasi dengan wali kelas dan rekan guru lainnya dalam menanamkan budaya positif dengan kesepakatan kelas 

Rekan guru sedang mendengarkan penjelasan tentang budaya positif
  • Guru memberikan penjelasan tentang kesepakatan kelas kepada siswa 
                        Adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut : 
  1.   Guru menjelaskan pengertian dan manfaatnya
  2.   Guru mengambil salah satu contoh kesepakatan kelas 
  3.   Guru memberikan stik note kepada siswa untuk menuliskan kesepakatan yang akan                    dijalankan siswa 
  4.   Siswa menempelkan kesepakatan kelas yang ada di stik note yang sudah siswa tulis kedalam       karton yang sudah disediahkan guru 
  5.    Guru dan siswa berkolaborasi dalam menentukan kesepakatan kelas yang siswa sepakati                bersama sama 
  6.    Guru membacakan kesepakatan kelas yang sudah disepakati yaitu berdoa sebelum dan                    sesudah belajar, menghormati antar sesama, disiplin , bertanggung jawab, jujur dan madiri 

Guru dan siswa berkolaborasi  

Siswa sedang menempelkan kesepakatan kelas di karton
  • Semua warga kelas melaksanakan dan menerapkan kesepakatan kelas 
  1.  Guru memantau siswa di dalam kelas dengan memperhatikan siswa dengan semangat menjalankan kesepakatan kelas yang mereka buat 
  2. Guru sangat senang sama siswa karena mereka sudah masuk ke dalam kelas tepat waktu dan bertanggung jawab mengerjakan tugas yang diberikan 
  3. Siswa telah menanamkan budaya positif dengan kesepakatan kelas sehingga suasana ruangan kelas menjadi nyaman dan menarik 

Mandiri 


Berdoa sebelum dan sesudah belajar

      
Siswa bertanggung jawab membersihkan ruangan kelas

Siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru 
 

Memberikan Salam, sapa dan senyum kepada murid


Suasana ruang kelas yang nyaman dan aman karena menghormati antar teman 
  • Melakukan refleksi dari pelaksanaan kelas

                   Dalam hal ini kegiatan yang dilakukan adalah meminta kepada dua siswa untuk memberikan testimoni dari pelaksanaan kegiatan. siswa yang memberikan testimoni mengatakan bahwa dengan adanya kesepakatan kelas mereka menjadi termotivasi dalam menjalankan kesepakatan tersebut dan suasana pembelaran dalam kelas lebih nyaman dan aman sehingga budaya positif dapat tercipta di sekolah

  • Membuat laporan  aksi nyata dari kegiatan yang sudah dilaksanakan 
                Kegiatan yang dilakukan dalam hal ini adalah menghadap kepada kepala sekolah dengan memberikan laporan aksi nyata yang telah dibuat serta meminta masukan dari pelaksanaan aksi nyata yang saya lakukan.

        4. Dukungan 

            Pelaksanan kegiatan aksi nyata yang saya lakukan dapat dijalankan dan dilaksanakan dengan baik tidak terlepas dari dukungan warga sekolah yaitu : 

  • Kepala sekolah yang memberikan ijin dan masukan yang memberikan motivasi dan semangat kepada saya dalam pelaksanaan aksi nyata saya 
  • Rekan Guru yang  memberikan semangat dan bantuan dalam berkolaborasi membuat kesepapakatan kelas 
  • Siswa sebagai subyek dengan semangat membuat kesepakatan kelas mereka dan menjalankan kesepakatan tersebut
  • Warga sekolah lainnya seperti tata usaha yang selalu membantu dalam urusan sarana dan prasarana yang dibutuhkan 
        C. Penutup    

       Kegiatan aksi nyata yang saya laksanakan masih mempunyai kekurangan, tetapi setiap kegiatan wajar mempunyai kekurangan, dari kekurangan yang saya dapat akan menjadi perbaikan bagi saya untuk kedapannya. Dalam kegiatan aksi nyata ini dapat diambil sautu kesimpulan bahwa dengan adanya kesepakatan kelas yang telah dibuat oleh siswa  membuat siswa termotivasi dan semangat dalam belajar karena ruangan pembelajaran menjadi nyaman dan aman sehingga dapat menciptakan budaya positif. dalam menjalankan kesepakatan kelas ada juga siswa yang melanggarnya dan guru akan memanggil siswa tersebut dan melaksanakan segitiga restitusi kepada siswa yang melanggar sehingga guru sebagai manager dapat memberikan solusi dari masalah yang di hadapi siswa tersebut. saya mengharapkan supaya setiap guru di SMK Negeri 1 Binjai menerapkan kesepakatan kelas dalam menciptakan budaya positif di sekolah terutama di kelas sehingga proses pembelajaran berjalan dengan nyaman dan aman 



                                AKSI NYATA _BUDAYA POSITIF MODUL 1.4





Friday, 20 May 2022

GURU PENGGERAK

 Nama saya Ranto Panjaitan , saya mengajar di sekolah SMK Negeri 1 Binjai sejak tahun 2011 - sekarang. saya adalah guru bidang studi matematika. saya mengikuti tes calon guru penggerak angkatan 5 dari kotamadya binjai . Puji Tuhan setelah saya melewatin 2 tahap tes ternyata saya lulus dan sekarang sedang mengikuti penddikan guru penggerak angkatan 5.

Gambar : 

saya sedang mengajar 










MODUL 3.1.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI_PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

                                           DATA PRIBADI  RANTO PANJAITAN, S.Pd  SMK NEGERI 1 BINJAI CGP ANGKATAN 5 KOTA BINJAI  FASILITATOR ...