Filosopi Ki Hadjar Dewantara dengan Pratap Triloka yang sering dikenal dengan tiga semboyan kepimpinan dalam pendidikan yaitu Ing Ngarso Sung Tuladha( didepan memberikan teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah memberi semangat) dan Tut Wuri Handayani (dibelakang memberikan daya kekuatan). Dengan adanya Pratap Triloka akan menjadi pegangan seorang pendidik sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan dimana sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik harus menjadi Ing Ngarso Sung Tuladha yang artinya seorang pendidik harus memberikan teladan dan contoh yang positif dalam menyelesaikan masalah dimana seorang pendidik harus bijak dalam mengidentikasi masalah yang ada sehingga siswa dapat mengikuti cara keteladan pendidk dalam pengambilan keputusan dari suatu masalah, sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik harus Ing Madya Mangun Karsa, dimana pendidik harus memberikan semangat kepada siswa dalam mengambil keputusan dari suatu masalah yang ada, dan sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik menjalankan Tut Wuri Handayani artinya bahwa pendidik selalu dapat memberikan dorongan atau dukungan kepada kinerja siswa agar dapat berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya. Disamping itu sebagai pemimpin pembelajaran seorang pendidik dalam menyelesaikan masalah baik itu dilema etika maupun bujukan moral maka pendidik harus menggunakan 4 paradigma dilema etika , 3 prinsip dalam pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
2.Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Setiap pendidik pasti memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam pada dirinya, sehiingga nilai nilai itu menjadikan pendidik adalah teladan bagi siswa.
Seorang pendidik harus mempunyai nilai-nilai yang terkandung dalam guru penggerak yaitu mandiri, inovatif,kolaboratif,reflektif dan berpihak kepada murid sehingga dengan adanya nilai nilai ini seorang pendidik akan mampu mengambil keputusan yang berpihak kepada murid, sesuai dengan nilai-nilai kebajikan dan rasa bertanggung jawab. Nilai-nilai kebajikan yang mendasar pada diri kita diantaranya cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggungjawab dan penghargaan dalam hidup. Nilai-nilai itulah yang mendasari pengambilan suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika sehingga berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan. Ketiga prinsip yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus kita hadapi sebagai pemimpin pembelajaran yaitu
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thingking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thingking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based thingking)
3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan "coaching" yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada sebelumnya.?
Sebagai pemimpin pembelajaran sebagai seorang guru coaching sangat penting karena dengan coaching permasalahan yang kita hadapi baik dengan murid maupun dengan rekan sejawat yang membantu kita dalam menagrahkan penyelesaian masalah yang kita hadapi.
Dalam dunia pendidikan Coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan Coach dapat membuat murid melakukan metakognisi untuk mengambil keputusan dengan memilih sendiri alternatif/solusi dari permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur tangan orang lain. Proses coaching dilakukan sebagai pendampingan bagi coachee dalam menemukan solusi dan menggali potensi yang ada dalam diri, yang kemudian dituangkan dalam sebuah tindakan sebagai bentuk tanggung jawab (TIRTA).
Menilik kembali filosofi Ki Hajar Dewantara tentang peran utama guru (Pamong/Pedagog), maka memahami pendekatan Coaching menjadi selaras dengan Sistem Among sebagai salah satu pendekatan yang memiliki kekuatan untuk menuntun kekuatan kodrat anak (murid). Pendekatan coaching sistem among dapat diterapkan dengan menggunakan metode TIRTA yang merupakan kepanjangan dari T: Tujuan, I: Identifikasi, R: Rencana aksi, dan TA: Tanggung jawab. Dari segi bahasa, TIRTA berarti air. Air mengalir dari hulu ke hilir. Jika kita ibaratkan murid kita adalah air, maka biarlah ia merdeka, mengalir lepas hingga ke hilir potensinya. kita, sebagai guru memiliki tugas untuk menjaga air itu tetap mengalir, tanpa sumbatan. Tugas guru adalah menuntun atau membantu murid (coachee) menyadari bahwa mereka mampu menyingkirkan sumbatan-sumbatan yang mungkin menghambat perkembangan potensi dalam dirinya. Hal ini selaras dengan Tujuan coaching yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka.
Pendekatan coaching model TIRTA menjadi selaras jika disandingkan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada anak. Keterampilan coaching akan membantu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik.
Dalam proses coaching, seorang coach menuntun agar coachee dapat menggali, memetakan situasinya sehingga menghasilkan pemikiran atau ide-ide baru atas situasi yang sedang dihadapi. Proses coaching menekankan pada proses inkuiri yaitu kekuatan pertanyaan atau proses bertanya yg muncul dalam dialog saat coaching. Pertanyaan efektif mengaktifkan kemampuan berpikir reflektif para murid dan keterampilan bertanya mereka dalam pencarian makna dan jawaban atas situasi atau fenomena yang mereka hadapi dan jalani.
Apakah keputusan saya sudah berdasarkan rasa tanggungjawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid dengan mengikuti 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
- Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
- Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
- Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
- Pengujian benar dan salah
- Uji Legal yaitu menentukan apakah ada aspek pelanggaran hukum, jika jawabanya ya maka bukanlah antara benar lawan benar (dilema etika) namun antara benar dan salah (bujukan moral)
- Uji Regulasi/ standar professional yaitu menentukan apakah ada pelangaran peraturan/ kode etik profesi dalam kasus tersebut
- Uji Intuisi yaitu menentukan apakah ada yang salah dalam situasi tersebut berdasarkan perasaan dan intuisi
- Uji Publikasi yaitu menguji perasan bila keputusan yang diambil dipublikasikan di halaman depan koran
- Uji Panutan/ idola yaitu menentukan keputusan apa yang akan diambil oleh panutan/ idola dalam situsi tersebutPengujian paradigma benar lawan benar
- Melakukan prinsip resolusi
- Investigasi opsi trilema
- Buat keputusan
- Lihat lagi keputusan dan refleksikan.
Sembilan langkah pengambilan tersebut sangat membantu keterampilan coaching karena keterampilan ini membekali seorang guru untuk menjadi coach bagi dirinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil dan melihat berbagai opsi solusi sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat dan efektif.
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?
Sebagai pemimpin pembelajaran seorang guru harus mempunyai kemampuan dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional pada dirinya sehingga di dalam pengambilan keputusaan perlu dilakukan dengan kompetensi sosial emosional oleh karena seorang pendidik memrlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan. Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab adalah kemampuan seseorang untuk membuat pilihan-pilihan yang konstruktif terkait dengan perilaku pribadi serta interaksi sosial mereka berdasarkan standar etika, pertimbangan keamanan dan keselamatan, serta norma sosial (CASEL).
Diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindful), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa di dalam kondisi berkesadaran penuh, terjadi perubahan fisiologis seperti meluasnya area otak yang terutama berfungsi untuk belajar dan mengingat, berkurangnya stres, dan munculnya perasaan tenang dan stabil . Dengan latihan berkesadaran penuh, maka seseorang dapat menumbuhkan perasaan yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih, yang akan berpengaruh pada keputusan yang lebih responsif dan reflektif.Kompetensi sosial dan emosional diperlukan agar guru dapat fokus memberikan pembelajaran dan dapat mengambil keputusan dengan tepat dan bijak sehingga dapat mewujudkan merdeka belajar di kelas maupun di sekolah.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?Langkah awal yang saya gunakan seorang pemimpin pembelajaran dalam menyelesaikan studi kasus adalah saya sebagai pendidik terlebih dahulu mengidentifikasi masalah yang saya hadapi dengan baik apakah masalah tersebut termasuk unsur dilema etika atau bujukan moral karena dua unsur ini sangat tipis perbedaannya oleh karena itu saya memerlukan nilai-nilai yang saya anut sebelumnya sehingga masalah itu dapat saya bedahkan dan saya dapat mengambil keputusannya.. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan. Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggung jawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.Kita tahu bahwa Nilai-nilai yang dianut oleh Guru Penggerak adalah reflektif, mandiri, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada anak didik. Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik.
6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?
Setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid. Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat , maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Sebagai pemimpin pembelajaran sebagai seorang guru akan menghadapi berbagai masalah dan dalam pengambilan keputusan dari masalah itu pasti akan mengalami perbedaan keputusan antara saya dan rekann sejawat dan dari perbedaan keputusan itu merupakan suatu tantangan yang harus diselesaikan dengan menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang sterjadi di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah.Dalam kasus dilema etika kita dihadapkan pada dua pilihan yang sama sama benar namun harus diputuskan salah satu harus dilakukan , dalam kasus dilema etika sebagai guru terlebih dahulu kita menentukan jenis paradigmanya yaitu individu lawan kelompok,kebenaran lawan kesetian,keadilan lawan kasih sayang dan jangka pendek lawan jangka panjang setelah timbullah tantangan tantangan yang dalam mengambil keputusan dari kejadian tersebut akibat benar lawan benar sehingga tantangannya sangat berat dalam mengambil keputusan. Setiap perubahan paradigma yang dilakukan baik di lingkungan sekolah maupun di luar akan ada kaitannya dengan muncul tantangan karena perubahan membawa dampak baik positif maupun negatif sehingga adanya perubahan akan muncul tantangan.
8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik. Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan transformasional, pasti ada kritik. Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid?" (Nadiem Makarim, 2020)
Pada konteks merdeka belajar, proses pembelajaran yang dilakukan adalah yang berpihak pada murid. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat “menuntun” dan memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu -ilmu baru yang didapatnya. Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain
9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Sebagai seorang guru dalam pemimpin pembelajaran pengambilan keputusan harus didasarkan pada rasa tanggungjawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid. Dengan keputusan yang berpihak pada murid berarti keputusan yang kita ambil sudah mempertimbangkan kebutuhan belajar murid dan menuntun murid untuk mengembangkan potensinya sehingga dengan memperhatikan semua itu dapat berpengaruh pada keberhasilan dari murid di masa depan nanti.
Seorang pemimpin pembelajaran yang memiliki penalaran yang baik, sepantasnya menghargai konsep-konsep dan prinsip-prinsip etika yang pasti. Prinsip-prinsip etika sendiri berdasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati dan disetujui bersama, lepas dari latar belakang sosial, bahasa, suku bangsa, maupun agama seseorang. Nilai-nilai kebajikan universal meliputi hal-hal seperti Keadilan, Tanggung Jawab, Kejujuran, Bersyukur, Lurus Hati, Berprinsip, Integritas, Kasih Sayang, Rajin, Komitmen, Percaya Diri, Kesabaran, dan masih banyak lagi.
Keputusan-keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah, terutama bagi murid. Pendidik adalah teladan bagi murid untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan yang dapat diambil bahwa guru merupakan pemimpin pembelajaran maka diharapkan mampu memiliki sikap among berdasarkan Pratap Triloka yang dapat membantu murid dalam tumbuh kembangnya dan menjadi teladan bagi lingkungannya. Sangat penting pula bagi guru untuk memiliki pengetahuan bagaimana cara mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri, pengelolaan diri, keterampilan membangun relasi dan pengambilan keputusan yang bertanggungjawab. Diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Untuk dapat mengambil keputusan yang tepat dan efektif guru juga harus memiliki kemampuan sebagai coach dan memperhatikan 3 prinsip pengambilan keputusan serta 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim dan tentunya memberikan dampak positif bagi murid di sekolah.
Kaitan-kaitannya dengan modul sebelumnya, yaitu:
- Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.
- Pengambilan keputusan harus berdasarkan pada budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being).
- Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya menuju profil pelajar pancasila.
- Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkah pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar
11.Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Setelah saya mempelajari modul 3.1 akhirnya saya mampu membedahkan antara masalah dilema etika atau bujukan moral . Dilema etika (benar vs benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah.
Empat Paradigma dilema etika, yaitu :
1. Paradigma individu melawan masyarakat (individu vs community); yaitu konflik yang terajdi untuk membuat pilihan antara kepentingan pribadi atau kelompok kecil dengan kepentingan orang lain atau kelompok yang lebih besar.
2. Paradigma keadilan melawan rasa kasihan (Justice vs mercy); pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan pelakukan yang sama bagi semua orang atau membuat pengecualian kar3ena kemurahan hati dan kasih sayang. Terkadang diperlukan untuk memegang teguh peraturan, akan tetapi, kita pun terkadang perlu membuat pengecualian untuk hal yang benar dan manusiawi.
3. Paradigma kebenaran mealawan kesetiaan (truth vs loyalty). Pada paradigma ini kita ditempatkan pada situasi untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia sebagai rasa tanggung jawab kita kepada orang lain. Apakah kita akan berlaku jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
4. Paradigma jangka pendek melawan jangka panjang (short term vs long term) pada paradigma ini kita ditempatkan pada pilihan antara yang nampak terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang.
Dilema etika seringkali membuat kita sulit untuk mengambil keputusan. Keputusan yang kita ambil sering kali hanya berdasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini:
- Berpikir Berbasis pada Hasil Akhir (Ends Based Thinking).
- Berbasis Peraturan (Rules Based Thinking).
- Berbasis Rasa Peduli (Cares Based Thinking).
Sebelum mengambil keputusan, terdapat 9 (sembilan) langkah yang dapat disusun untuk memandu kita dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan, diantaranya adalah sebagai berikut:
- Uji Legal yaitu menentukan apakah ada aspek pelanggaran hukum, jika jawabanya ya maka bukanlah antara benar lawan benar (dilema etika) namun antara benar dan salah (bujukan moral)
- Uji Regulasi/ standar professional yaitu menentukan apakah ada pelangaran peraturan/ kode etik profesi dalam kasus tersebut
- Uji Intuisi yaitu menentukan apakah ada yang salah dalam situasi tersebut berdasarkan perasaan dan intuisi
- Uji Publikasi yaitu menguji perasan bila keputusan yang diambil dipublikasikan di halaman depan koran
- Uji Panutan/ idola yaitu menentukan keputusan apa yang akan diambil oleh panutan/ idola dalam situsi tersebutPengujian paradigma benar lawan benar
- Melakukan prinsip resolusi
- Investigasi opsi trilema
- Buat keputusan
- Lihat lagi keputusan dan refleksikan.
12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Pernah, Saat itu saya dihadapkan dengan situasi dilema etika yaitu masalah siswa saya yang akan ditinggalkan kelas oleh beberapa guru mata pelajaran memang siswa saya ini mempunyai masalah dan tingkah laku yang buruk tetapi karena saya mengingat ekonomi orangtua yang lemah jadi saya berusaha untuk menaikan siswa saya tersebut supaya siswa itu tidak putus sekolah sebelumnya saya sebagai wali kelas menemui beberapa guru mata pelajaran untuk bermohon supaya siswa tersebut naik kelas sehingga kasus ini adalah dilema etika yang pertama kali saya hadapi sebagai guru dan saya mengambil keputusan tetap menaikan siswa saya tetapi keputusan yang ambil itu masih mengalami keraguan . Tetapi setelah mempelajari modul ini ternyata apa yang saya lakukan sebelumnya sangat berbeda dengan setelah belajar modul ini yaitu pengambilan keputusan untuk dilema etika harus menggunakan 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Dampak mempelajari modul ini saya menjadi lebih bijak dalam memututuskan masalah yang saya temui dan saya juga merasakan lebih bercaya diri dalam mengambil keputusan terutama sebaagi pemimpin pembelajaran. saya lebih percaya diri karena bisa memastikan keputusan yang saya ambil tepat atau efektif dan bertanggung jawab dan keputusan yang saya ambil disesuaikan dengan nilai-nilai kebajikan dan berpihak kepada siswa dan setiap keputusan itu melalui proses pengujian keputusan yang terdiri dari 9 langkah. saya juga merasakan mendapat pengetahuan yang berharga terutama sebagai individu dalam memandang permasalahan yang saya hadapi.
14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Sebagai seorang individu topik pada modul ini sangat penting dan bermanfaat bagi saya karena dengan mempelajari modul ini saya berharap saya menjadi terampil dalam pengambilan keputusan pada setiap permasalahan yang hadapi.
Sedangkan sebagai seorang pemimpin topik pada modul ini sangat penting dan berguna juga karena sebagai pemimpin pembelajaran akan selalu dihadapkan pada situasi dimana harus mengambil keputusan yang mengandung nilai nilai kebajikan yang saling bertentang dan juga sebagai pemimpin pembelajaran saya menjadi tahu membedahakan kasus dilema etika atau bujukan moral sehingga dengan demikian saya bisa mengambil keputusan yang tepat dan bertanggung jawab dan berpihak kepaad siswa.
Demikianlah saya telah menyelesaikan tugas modul 3.1.A.8 yaitu Koneksi Antar Materi
saya harapkan kepada teman-teman yang membaca tolong diberikan masukannya untuk menjadi perbaikan kedepannya.